Sweetest Nightmare

Berani Bermimpi adalah Berani Mengambil Risiko dan Kesempatan

Tampilkan postingan dengan label CoLourfuL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CoLourfuL. Tampilkan semua postingan

Selamat

Ada banyak hal yang memang tidak perlu dirayakan. Cukup diendapkan dalam hati dan dijadikan pengingat akan hal yang berharga.

Ada banyak hal yang memang tidak perlu diingat. Cukup disimpan dalam hati dan dijadikan kenangan tentang bahagia dan sakitnya.

Ada banyak hal yang seharusnya diingat. Bukan pura-pura lupa agar dianggap tidak peduli. Toh, dengan tetap mengingat tidak akan menjadikan masa lalu kembali lagi.

Tidak perlu berpura-pura masih peduli, karena sesungguhnya semua rasa sudah sengaja dikebiri. Pun tidak akan berpura-pura tidak peduli walau telah disakiti sampai mati suri.

Buatku, semua baik. Setidaknya, seperti yang diminta semua orang agar aku baik-baik. Pun sedang berusaha kuat agar tidak merepotkan semua orang dengan menarik lidah dalam dan menutup mulut rapat.

Hanya ingin mengucapkan selamat.

Selamat, karena sudah bisa melupakan masa lalu. Selamat, karena sudah bisa me-retweet salam untuk jiwa yang masih dibayangi masa lalu. Selamat, karena telah berhasil terlepas dari masa lalu. Selamat, karena aku masa lalu(mu).
Selamat, karena pada hari di masa lalu seseorang telah mempertaruhkan jiwa-raganya untuk kamu.

Selamat.

Terima kasih.

(Here they are, unsend present. I wish you could have it.)

| 27 | 08 |


Kembali pada hari yang sama.
Namun aku memilih diam. Seperti yang kamu lakukan. Tidak ada sapa atau ramah. Hanya kita dengan jarak yang membuat kita saling terdiam.

Terkungkung dalam sepi dan sunyi. Aku menatap lagi langit yang bertabur sedikit bintang. Menghentikan harapanku tentang senyum yang mungkin terkembang. Senyum yang telah lama pudar entah kemana.

Kucukupkan mengeja dalam hati tentang setiap pertemuan. Kucoba melupakan. Menanggalkan semua bentuk ingatan tentang janji dan kecupan angin. Hingga aku di sini. Menyeduh bahagia bersama pagi dan malam.

Does not everything depend on
our interpretation of the silence around us?
- Lawrence Durrell


Picture here

A Happy Fitri


Senengnya yang besok mau Ied Fitri. Saya juga kok.
Kalau di desa saya tiap Ied Fitri pasti semua masjid dan mushola takbiran mulai habis maghrib sampai tengah malam. Ada pula ‘pasukan’ takbir keliling dari desa-desa tetangga. Tadi selepas Isha’ ada takbir keliling dengan ‘pasukan’ bajak mesin dan kereta kelinci. Subhanallah.

Tradisi baju baru? Saya sering dapat baju baru kalau hari raya. Biar saja ada yang bilang norak. Sewaktu kecil, keluarga kami hidup pas-pasan banget, jadi orang tua punya dana agak banyak ya pas Ied Fitri. Jadi punya baju baru mungkin hanya sekali setahun. Ketika saya sudah kerja pun, saya jarang beli baju baru, kecuali kalau dipaksa kantor untuk beli baju sesuai maunya kantor. Jadi apa salahnya kalau saya memberi reward pada diri saya sendiri, setahun sekali? Kecuali kalau ada yang mau membelikan. Hehehe..

Ied Fitri tahun ini bakal sepi. Kakak saya dan anak istrinya mudik ke Gresik dulu baru lusa pulang ke rumah. Di rumah mbah saya, om dan bulik akan banyak yang tidak mudik tahun ini. Baiklah saya menikmati Ied Fitri dengan keluarga yang ada saja.

Finally, smile and forgive all of my mistakes.

Yang kesel, jengkel, sebel sama saya...minimal untuk sehari besok, disimpan dulu ya rasa dongkolnya. Untuk yang pernah saya jahili, saya jahati, saya buat menangis, maaf yaa...saya sudah nggak nakal lagi kok. Hehehe.

Ied Mubarok ^__^

Picture here

Sebuah Keinginan; Berhenti atau Bertahan?


Saya perlu sebuah keajaiban. Saya perlu hal yang tidak masuk akal dan tidak terlihat, tapi bisa membuat saya yakin dan percaya. Seperti apa yang saya rasa kepada Tuhan saya dan agama saya. Saya ingin merasakan hal itu untuk hal lain juga. Untuk hati saya. Untuk perasaan saya.

Saya sudah cukup sering mengatakan pada mereka bahwa saya benar-benar dalam koridor yang tak mereka pahami. Tapi mereka memaksa saya menjelaskan. Lalu say harus menjelaskan apa? Apakah sebuah penjelasan super sederhana yang hanya membuat mereka tak paham dan tidak akan mungkin saya jelaskan lebih detail? Atau saya harus berteriak untuk meminta mereka berhenti bertanya. Oh, tidak!

Saya perlu alasan. Alasan untuk membenci dan marah. Saya punya sedikit tapi tidak cukup untuk meletakkan jiwa saya pada jalan itu. Meski sebenarnya saya tidak pernah tahu kenapa saya membutuhkan alasan untuk marah dan benci. Bukankah seharusnya saya mensyukuri ketidakpunyaan alasan itu? Entahlah. Saya sedang sangat ingin bergelimang rasa marah dan benci.

Saya ingin berhenti. Berhenti merasa. Berhenti berharap. Berhenti menanti. Berhenti mencari. Hingga akhirnya berhenti untuk ingin.

Sudah cukup saya merasa semua ini. Saya ingin melangkah dengan hati ringan dan pikiran bebas. Jika harus berpisah, seharusnya pilihan itu tidak disesali. Jika segala rasa saya memang tidak pernah dapat saya jelaskan –pada siapa pun-, maka saya memang memerlukan keajaiban untuk membuatnya terejawantahkankan dan terjelaskan. Segala yang saya tunjukkan di masa lalu, seharusnya telah mampu membuat semuanya jelas.

Namun jika semua hal itu dianggap sebagai sebuah kesia-siaan atau mungkin kebohongan, maka saya tidak akan membuat diri saya makin jatuh dalam pikiran tentang itu. Semua kejujuran sudah saya ungkap, karena saya ingin memulai sesuatu yang baik dengan niat baik.

Sekarang, saya memang hanya perlu sebuah keajaiban. Keajaiban yang memupus atau menumbuhkan segala yang pernah saya lihat sebagai sebuah impian. Keajaiban yang bisa meredam atau pun menyulut amarah dan benci saya.


The most exhausting thing in life is being insincere.
-Anne Morrow Lindbergh

Picture here

Jatuh (terlalu) Cinta


Saya sempat berpikir ingin memberi judul posting ini dengan “Tepok Jidat”. Ya ampun, judul yang nggak menarik sama sekali. Judul yang tidak ‘menjual’, hingga mengakibatkan tidak akan dibeli. Hehehe... tapi saya tidak ingin memberi judul itu, karena saya telah menemukan judul yang benar-benar sempurna.

Kejadian-kejadian yang terjadi selama beberapa hari terakhir ini. Saya berencana bahwa selama bulan Ramadhan ini akan shalat tarawih di hampir semua masjid/mushola yang ada di desa saya. Sejauh ini, keinginan saya terlaksana dengan baik dan menyenangkan. Di beberapa tempat tersebut, saya (yang selalu pergi bersama ibu) mendapati kejadian yang membuat kami terharu, tertawa, dan lainnya.

Fakta pertama adalah jarang ada orang yang mengenal saya secara pribadi kalau saya tidak sedang bersama ibu. Tetangga yang rumahnya dekat dan keluarga-keluarga besar sih pastinya sudah kenal, tapi kan kami shalat di masjid/mushola yang jarang kami kunjungi. Ketika saya sendirian, warga tidak akan mengenal saya sebagai diri saya, tapi ketika bersama ibu, warga akan tahu bahwa saya adalah anak bapak dan ibu. Hehehe...saya ternyata tidak terlalu terkenal seperti ketika masih kecil dulu.

Fakta kedua adalah tiap mushola/masjid benar-benar berbeda cara penyelenggaraan Shalat Tarawih. Saya menyukai fakta ini, meskipun saya lebih sepakat dengan ke-seragam-an dalam ibadah. IMHO saja lah.

Fakta ketiga adalah nama saya di desa saya sendiri bermacam-macam. Sebagian besar orng yang mengenal saya, memanggil saya dengan nama Yaya. Sebagian lainnya memanggil Mara. Ramadhan kali ini saya baru tahu kalau tetangga ada yang memanggil saya dengan panggilan lain.
Jadi ceritanya kita shalat di sebuah masjid baru. Ibu yang sudah kenal dengan dengan beberapa jamaah langsung bersalaman dan bertukar kabar. Ketika ibu ditanya datang dengan siapa, ibu langsung bilang dengan anaknya yang perempuan. Saya kaget sekali ketika jamaah tersebut (ehmm...saya memanggilnya ‘mbah’ sebenarnya), dengan sangat ramah mbah tersebut langsung berkata (Percakapan dilakukan dengan bahasa Jawa, namun dalam posting ini sudah saya alihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia) “Oalah...datang dengan Mbak Lala.”
Seumur umur, baru kali ini saya dipanggil ‘Lala’. Sebenarnya ada juga yang memanggil saya Naya, Nara, atau Rara, tapi nama-nama itu sudah saya dengar beberapa kali. hehehe

Fakta keempat saya dianggap sebagai cucunya ibu. Ini membuat saya dan ibu terpingkal-pingkal ketika membahasnya keesokan hari.
Kami datang ke sebuah mushola, lalu seperti biasa, ibu berinteraksi dengan beberapa jamaah yang sudah dikenal. Salah seorang jamaah langsung menanyai ibu, “Datang dengan cucunya, Bu?” (Percakapan dilakukan dengan bahasa Jawa, namun dalam posting ini sudah saya alihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia)
Keesokan harinya ketika kami membahas, saya langsung bilang kepada ibu, “Berarti aku masih imut banget ya?”
Lantas ibu menjawab, “Aku mikir dua hal, berarti kamu dianggap masih imut dan ibu dianggap sudah tua banget."

Masih banyak sekali hal yang kami temukan selama melakukan safari Tarawih. Menyenangkan, seru, kadang membuat haru, dan berbagai macam cerita yang tidak kami temukan di Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Saya sampai lupa cerita apa saja yang pernah menjadi bahan pembicaraan kami di rumah sepulang dari Tarawih di sebuah mushola atau masjid. Saya terlalu menikmati Ramadhan kali ini, karena ini adalah Ramadhan yang akan saya nikmati di rumah full selama satu bulan.

Saya benar-benar telah jatuh cinta pada Ramadhan.
Picture here

I Hate Your Love


Tentang sahabatku. Aku bingung mau mulai dari mana. Aku menyayangi dia, tulus. Ah, seharusnya kata ‘tulus’ tak boleh terucap, tapi aku bersungguh-sungguh ingin dia tahu bahwa apa yang kutawarkan atas persahabatan kami bukanlah hal remeh. Aku berharap banyak hal dari kemampuan dan pesona yang dia miliki.

Bukan tentang sesuatu yang mewah dan melimpah ruah, hanya sedikit mengingatkannya bahwa aku menyukai segala kebersahajaan dan kesederhanaan yang dia miliki. Itu dulu, dulu sekali ketika kami baru bertemu. Aku ingin selalu melihatnya dalam balutan kesederhanaan itu.

Namun aku akhir-akhir ini begitu kecewa padanya. Sikapnya, hatinya, pola pikirnya telah berubah. Bahkan mungkin jiwanya telah tak lagi sama seperti ketika aku meninggalkannya berlari dan menari menjauh. Semuanya berubah begitu cinta memenuhi atmosfer jiwanya. Iya, cinta. Cinta yang salah, cinta yang tak semestinya. Cinta yang membuatku tak sanggup memeluknya lagi. Dan kutahu dia menyembunyikan cinta itu dari hadapanku, karena dia tahu saya akan menjadi orang yang paling kecewa atas keputusannya.

Sesekali aku sangat ingin membuat dia tahu bahwa aku telah mendengar semua hal dengan amat jelas tanpa dia perlu mengatakan padaku. Banyak hal yang telah sampai pada telingaku dan hatiku meski dia menyembunyikan sangat rapat dariku. Iya, tentang cinta itu. Perasaannya itu membuat aku menangis tanpa perlu dia melihatku berurai air mata.

Sekarang aku membiarkannya menikmati sensasi sakit jiwanya. Meskipun kadang satu sisi hatiku ingin menariknya sejauh mungkin. Aku ingin memeluknya dan mengatakan bahwa aku terluka lebih dari yang pernah dia bayangkan. Aku membenci rasa yang dia jadikan sebagai perangkap bagi dirinya. Aku kecewa karena cintanya.

Aku menyayangi dia sepenuh hatiku, tapi aku kecewa, terluka dan menangis. Aku ingin dia kembali. Aku ingin dia mengakui kejujuran yang dia tutupi. Aku ingin dia menjadi keelokan mataku lagi. Aku ingin mampu membuatnya menyadari bahwa segala marah dan kecewa ini adalah harapan besar untuk kebaikannya.

Demi Tuhan, aku tak ingin melihat sahabatku mencintai seorang wanita.



There is no trap so deadly as the trap you set for yourself.
-Raymond Chandler-

Picture here

Harapan Ramadhan 2012


Yippie! Setelah kemarin menunggu dengan galau selama seharian, akhirnya keputusan diambil. Keputusan bahwa puasa jatuh pada tanggal 21 Juli. Hahaha... Saya mah ikut pemerintah, karena menurut saya penentuan dengan cara melihat bulan itu lebih afdhol. Pendapat pribadi saja kok.

I know it’s random, but I remember him suddenly. Gara-gara kemarin ngobrol kalau dia dimasakkan ibu warung depan kost, saya jadi mikir untuk bilang, “Kalau ada saya, pasti saya akan masak yang enak buat kamu.” Tapi saya pun tiba-tiba tertawa sendiri. Saya memang bisa memasak, walau kadang terasa aneh di lidah orang lain karena saya tidak suka masakan asin kecuali asin yang berasal dari seafood. Jadilah selama ini saya masak seringnya kurang asin untuk selera orang lain. Dan tentu saja saya tidak mau menambah daftar ‘orang yang mengerutkan kening’ setelah menyuapkan masakan saya untuk yang pertama kali. Masakan saya memang enak, tapi saya tidak menjanjikan bahwa masakan tersebut tidak beracun. Hahaha.

Meski begitu, saya akui saya merasa sedikit sedih. Tahun ini saya masih harus menjalankan puasa sendiri. Padahal tahun lalu saya sempat berdoa bahwa saya ingin agar puasa tahun ini sudah menjadi seorang istri. Harapan yang sempat saya terbangkan setinggi awan. Tapi ketika itu pun saya merasa bahwa saya terlalu sakit untuk mulai lagi membuka hati. Bukan tidak mau move on, tapi saya akhirnya lebih percaya bahwa takdir itu tidak akan pernah tertukar dan tidak akan pernah salah meski sepersekian-miliar-milimeter.

Usaha saya sudah to the max, tapi kalau memang belum dikasih jalan berarti permohonan saya masih dipakai untuk menebus dosa-dosa yang pernah saya lakukan (begitu yang saya tangkap dari ceramah ust. Yusuf Mansyur di sebuah TV swasta). Akhirnya saya tetap bahagia menyambut Ramadhan tahun ini meski saya masih tetap sendiri. Toh, awal Ramadhan tahun ini lebih baik daripada tahun kemarin. Tahun kemarin saya mengawali puasa dengan shalat tarawih sendiri dan sahur sendiri selama beberapa hari karena bapak dan ibu menginap di rumah kakak.

Selamat menjalankan ibadah puada Ramadhan untuk semua muslim.
Semoga kita bisa menjadi orang yang lebih baik dari pada sebelumnya.
(Doa pribadi) Semoga tahun depan bisa ber-Ramadhan sebagai seorang istri. ^__^


It is better in prayer, to have a heart without words than words without a heart
-Mohandhas K. Gandhi-

Picture here

Pilihanku


Akhir-akhir ini saya jarang memposting tulisan saya, padahal saya tidak berhenti menulis. Entahlah, mungkin itu yang namanya galau menulis. Hehehe... galau aja pake alasan.

Tapi saya memang baru saja menjadi pendiam. Saya memutuskan untuk benar-benar pergi setelah sempat kembali lagi. Alasannya? Saya jawab ‘NO COMMENT’ saja lah. Ah, kenapa semua orang suka menanyakan alasan kenapa saya memilih menyelesaikan masalah dengan diam?! Sejak lama saya memang sebenarnya lebih suka diam dan memendam semuanya sendiri. Saya introvert, itulah yang mereka lihat dari saya yang rame dan ceria. Sesungguhnya mereka tahu tentang itu, tapi masih saja sering memaksa saya untuk menyatakan alasan.

Seperti ketika saya memutuskan untuk ‘break up’. Saya tidak benci, tapi saya pun mungkin juga tidak ingin berjalan bersama lagi. Dan beberapa sahabat bertanya, “Alasannya?” hehehehe. Ampun deh! Saya sudah berkali-kali bilang bahwa saya memang tidak ingin membahas alasannya, saya hanya ingin berjalan sendiri. That’s all, Fella.

Pada kenyataannya sekarang saya menikmati apa yang ada di hadapan saya. Saya kembali pada diri saya, menjadi diri saya yang sangat menyukai kesendirian meski punya banyak sahabat. Senyum saya mengembang tiap kali saya mencoba membayangkan apa yang pernah terjadi pada saya. Perjalanan yang menjadi kenangan yang benar-benar saya nikmati. Saya tidak menangis karena saya yakin dengan takdir saya.

Terima kasih, untuk yang sudah mengkhawatirkan saya. Terima kasih, untuk sahabat-sahabat yang telah berbagi dengan saya ketika saya mengambil keputusan ‘break up’. Terima kasih, untuk lagu yang membangkitkan semua mood saya hingga naik pada level ‘baik’. 

I love my life.



picture here

Kusampaikan Bersama Angin

I’m affraid...
Begitu katamu pagi ini.

Aku sangat ingin tidak mengatakan apapun tentang ketakutan yang kau rasa. Itu rasamu sendiri. Rasa yang kau bangun di atas rasa di dadamu. Ketakutan yang entah terbuat dari apa. Sedetik pun aku tidak berharap kau akan merasakan ketakutan.

Namun, akhirnya aku goyah. Aku ingin tahu apa yang kau takutkan.
Sedikit senyum melengkung ketika kau bilang masih membutuhkan aku. Bukan sombong, tapi aku sesungguhnya sedang sangat gundah. Aku baru saja merasa seperti kehilangan segala kekuatan yang kupunya.

Kita telah begitu banyak bicara tentang ‘kita’. Segala hal besar telah kita bagi sepanjang waktu berjalan. Tapi aku menyimpan tanya yang benar-benar mengganggu siang dan malamku. Bukan hanya tentang kita, tapi tentangmu saja dan tentang aku saja.

Aku masih ingin berjuang. Aku masih ingin bertahan. Aku masih ingin melangkah. Aku masih ingin di sampingmu. Meski aku hanya mampu meminta pada angin untuk menyampaikan padamu.

I will stay if you ask me to.

Borrow from here!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Mereka yang Mampir

Translator

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Guess House

free counters

Popular

Clock

Meeting Room

About Me

Foto Saya
Asmara Nengke
Solo, Indonesia
Not too simple, just unique, extraordinary and limited-edition. Others' big words mean nothing to me.
Lihat profil lengkapku

Kanca-Kanca

Talk to Me

Up to Date