Sweetest Nightmare

Berani Bermimpi adalah Berani Mengambil Risiko dan Kesempatan

Tampilkan postingan dengan label Ungu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ungu. Tampilkan semua postingan

Cukup Sekali dan Saya Pergi


Jika akhirnya saya kembali teriris, bukan karena saya tidak mampu mengerjakan yang mereka mau. Saya hanya perlu dihargai sebagai manusia. Manusia biasa. Tamnpa menyertakan segala macam gelar dan atribut yang menempel pada kening saya.

Apakah penghargaan terhadap manusia sudah habis terkikis? Apakah menghargai manusia sebagaimana kodratny sudah meng-aus? Apakah susah memperlakukan manusia dengan layak? Apa susahnya?

Kalau saja mesin bisa dicetak dengan printer saya, maka akan saya buat uang sebanyak yang orang mau. Jika uang memang bisa dicopy dengan mesin fotocopy biasa, maka akan mudah bagi saya memenuhi keinginan semua orang. Punya uang melimpah.

Tapi maafkan saya karena saya bukan mesin penghasil uang. Saya hanya tahu bahwa pekerjaan itu perlu passion tidak hanya patient. Kalau patient saya menipis drastis maka passion saya pun menguap.

Sekali lagi, mungkin perlu saya ingatkan. Saya manusia. Saya penuh salah, lupa, dan dosa. Hati saya bukan terbuat dari batu apalagi baja.
Hati saya hanya ranting yang bisa patah ketika tak lagi mampu menahan derasnya hujan. Saya hanya manusia biasa.

Ketika saya memilih berpaling, oleh karena ranting itu mulai tak lagi utuh. Perlu sesuatu yang bisa membebatnya agar kembali kuat. Agar tak terlanjur menjadi patah.

Sepertinya saya harus melangkah pergi. Meninggalkan segala yang pernah saya goreskan. Saya akan baik-baik saja. Air mata saya terlalu berarti untuk tangis yang lain. Cukup sekali dan saya pergi.

Picture here

Time to leave now, get out of this room, go somewhere, anywhere; 
 sharpen this feeling of happiness and freedom, 
stretch your limbs, fill your eyes, be awake, wider awake, 
vividly awake in every sense and every pore. 
Stefan Zweig

I See the Death Eater, I Think


Saya dikejar deadline. Hhuft.

Ini sudah tanggal 4 dan saya masih belum tahu cara membayar gaji pengajar yang masih 80% belum terbayar. Tapi saya benar-benar tidak tahu darimana saya mendapatkan uang untuk menggaji mereka. Bukan hanya pengajar, tapi juga seorang pegawai. dan tentu saja gaji saya sendiri. Pemilik aslinya tenang-tenang saja. Padahal sebagian besar uang sudah saya serahkan, tapi tak ada sepeser pun yang diberikan pada saya untuk menggaji para pengajar.

Besok mungkin akan jadi hari terburuk bagi saya. Saya ketemu beberapa pengajar, dan saya hanya pegang uang ala kadarnya yang tidak bisa saya gunakan untuk melunasi gaji mereka. Saya juga ada deadline untuk menyerahkan draft novel saya ke editor saya yang cantik di ujung sana.

Dada saya sudah sesak membayangkan apa yang akan terjadi besok. Deadline mungkin bisa menunggu, tapi pemberian gaji tak bisa menunggu sama sekali. Dan saya tidak punya cara untuk menggaji para pengajar

Sebenarnya saya tak harus menulis apa. Yang pasti hari ini saya tutup dengan sebuah mimpi tentang seseorang. Mimpi aneh. Membuat perasaan saya makin kacau dan dada saya makin sesak.

Seseorang yang entah berada dimana, entah di gunung, entah di laut, entah di gua. Entah. Saya memang tidak pernah menanyakan kabarnya, atau berusaha menanyakan kabarnya. Untuk apa menanyakan kabar pada orang yang tidak ingin kabarnya saya ketahui. Toh, dia juga tidak pernah peduli pada saya lagi.

Mimpi saya tentang orang yang sama sekali tidak lagi terlintas dalam ingatan saya. Bahkan saya enggan membuka phonebook HP apakah saya masih menyimpan nomernya atau sudah saya hapus. Beberapa tahun ini saya absen dari hidup dia, begitu juga sebaliknya, saya rasa dia lebih dari sekedar baik saat ini. Setidaknya saya serius dengan niat saya untuk menyembuhkan jiwa saya.

Saya bermimpi bertemu dia di suatu tempat. Menurut mimpi tadi, saya berada di tempat kerja dan begitu keluar, saya melihat dia. Dia mengatakan ingin memberikan sedikit hadiah untuk saya. Saya kaget karena dia tidak pernah memberi saya benda apapun. Tapi mimpi saya berakhir ketika mendengar suara mobil bapak masuk ke garasi.

Awal bulan buruk bagi saya. Entah kapan akan berakhir. Saya tidak pernah tahu. bahkan saya tak tahu apakah bisa berakhir atau makin menyiksa.
 
When I walked away,
I knew it won’t be the same anymore.
But I see that I’m the light of my life.


Huft!


Ada hiburan yang bikin saya ngakak dan sekaligus merasa kasihan. Hiburan karena saya tahu kalau tweet itu sindiran buat saya. Kasihan karena saya tahu ada orang yang mengira kalau saya menulis tentang kisah lama saya.

Saya benar-benar tertawa geli membaca tweet itu. Ternyata masih saja tulisan-tulisan saya dianggap menulis tentang dia yang amat sangat jauh di sana. Tentang orang yang entah sekarang ada di mana, orang yang tidak pernah lagi terlintas dalam otak dan hati saya. Tapi masih ada saja dianggap saya menulis tentangnya.

Saya memata-matai tweet seseorang? Hahaha... Yang benar saja?
Di twitter itu pastinya akan dengan sangat mudah baca tweet seseorang yang masuk ke TL kita. Tapi kalau blog, hanya bisa dibaca kalau seseorang menuju ke alamat web blog tersebut. So, kesimpulannya adalah bukan saya yang memata-matai.

Saya sudah membuang semuanya. Semua rasa. Rindu. Benci. Masih kurang? Saya sudah pernah kehilangan akal. Saya sudah pernah kehilangan nyawa. Masih kurang lagi? Ah, kalian serakah banget. Kalian saja deh yang coba jadi saya jaman dahulu itu. Hehehe... Saya sekarang sudah hidup aman, damai, tentram, sejahtera, bahagia.

Kalau pun saya sekarang galau, bukan karena masalah masa lalu itu. Bukan. Saya juga tidak marah dengan masa lalu saya sampai nggak bisa mencintai masa kini saya.

Hahaha... Ini kok malah saya jadi nyinyir.

Sudahlah... Saya tidak peduli lagi kok apa kata mereka di luar sana. Mereka tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi pada saya dulu atau pun sekarang. Biar saja mereka menyinyiri saya sesuka hati. Cukup saya tersenyum dan mengucap selamat menikmati hidup.

Hidup adalah keindahan,
menurut pendapatku


Picture here

Sebuah Keinginan; Berhenti atau Bertahan?


Saya perlu sebuah keajaiban. Saya perlu hal yang tidak masuk akal dan tidak terlihat, tapi bisa membuat saya yakin dan percaya. Seperti apa yang saya rasa kepada Tuhan saya dan agama saya. Saya ingin merasakan hal itu untuk hal lain juga. Untuk hati saya. Untuk perasaan saya.

Saya sudah cukup sering mengatakan pada mereka bahwa saya benar-benar dalam koridor yang tak mereka pahami. Tapi mereka memaksa saya menjelaskan. Lalu say harus menjelaskan apa? Apakah sebuah penjelasan super sederhana yang hanya membuat mereka tak paham dan tidak akan mungkin saya jelaskan lebih detail? Atau saya harus berteriak untuk meminta mereka berhenti bertanya. Oh, tidak!

Saya perlu alasan. Alasan untuk membenci dan marah. Saya punya sedikit tapi tidak cukup untuk meletakkan jiwa saya pada jalan itu. Meski sebenarnya saya tidak pernah tahu kenapa saya membutuhkan alasan untuk marah dan benci. Bukankah seharusnya saya mensyukuri ketidakpunyaan alasan itu? Entahlah. Saya sedang sangat ingin bergelimang rasa marah dan benci.

Saya ingin berhenti. Berhenti merasa. Berhenti berharap. Berhenti menanti. Berhenti mencari. Hingga akhirnya berhenti untuk ingin.

Sudah cukup saya merasa semua ini. Saya ingin melangkah dengan hati ringan dan pikiran bebas. Jika harus berpisah, seharusnya pilihan itu tidak disesali. Jika segala rasa saya memang tidak pernah dapat saya jelaskan –pada siapa pun-, maka saya memang memerlukan keajaiban untuk membuatnya terejawantahkankan dan terjelaskan. Segala yang saya tunjukkan di masa lalu, seharusnya telah mampu membuat semuanya jelas.

Namun jika semua hal itu dianggap sebagai sebuah kesia-siaan atau mungkin kebohongan, maka saya tidak akan membuat diri saya makin jatuh dalam pikiran tentang itu. Semua kejujuran sudah saya ungkap, karena saya ingin memulai sesuatu yang baik dengan niat baik.

Sekarang, saya memang hanya perlu sebuah keajaiban. Keajaiban yang memupus atau menumbuhkan segala yang pernah saya lihat sebagai sebuah impian. Keajaiban yang bisa meredam atau pun menyulut amarah dan benci saya.


The most exhausting thing in life is being insincere.
-Anne Morrow Lindbergh

Picture here

Menanti Awan


Kau masih saja mengharap awan itu berarak padamu. Awan yang membuat matamu tidak mampu mengalihkan pandangan matamu dari langit, meski sesungguhnya selalu membasahkan matamu pula.

Biarkan awan itu menjadi awan yang tetap bergerak, menebar air hujan. Karena sungguh awan tak punya tempat singgah. Terus bergerak, berarak, menuju langit yang menaungi tanah kering kemudian menyiramkan hujan. Tidak akan berhenti hingga airnya berubah menjadi hujan dan dia hilang.

Apa yang ingin kau raih lagi? Awan itu telah jauh meninggalkan langitmu. Bergerak perlahan dan menumpahkan semua airnya. Tak ada sisa untuk kau reguk, menghilangkan dahaga.

Senja syahdu masih di ufuk barat yang menguning. Senja akan menuntunmu menuju malam dan menemukan awan dengan warna beda. Tak usah menanti awan yang telah hilang. Jangan menanti! Bergerak lah juga seperti awan-awan itu. Temukan takdirmu.

Picture here

Feel...You!

I’ve told you everything you may know
I’ve told you everything I may dont know
I’ve told you a thing the words cant show

I gave you everything when I trust your feeling inside
I gave you everything when your arms around my shoulder
I gave you everything when I heard your heart beating

But then I realize, I give you my all when I see you in my dreams over and over

When we spent the night under the stars I feel like I soar to the sky
When you make me smile, you’ve just have my all world in your palm
When you hold my hand, you’ve been live inside for the rest of my life

By the time you leave me standing alone
I still can hear you, I still can feel the warmth
But I never move from the stage where I have been

You may fill your heart and mind with those angers of my stupidity
I’ll live with my shadow, and you walk away with all my questions
In hopes you are there full of bliss and bless

gambar dari sini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Mereka yang Mampir

Translator

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Guess House

free counters

Popular

Clock

Meeting Room

About Me

Foto Saya
Asmara Nengke
Solo, Indonesia
Not too simple, just unique, extraordinary and limited-edition. Others' big words mean nothing to me.
Lihat profil lengkapku

Kanca-Kanca

Talk to Me

Up to Date