Sweetest Nightmare

Berani Bermimpi adalah Berani Mengambil Risiko dan Kesempatan

Tampilkan postingan dengan label fRienDshiP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fRienDshiP. Tampilkan semua postingan

Selamat

Ada banyak hal yang memang tidak perlu dirayakan. Cukup diendapkan dalam hati dan dijadikan pengingat akan hal yang berharga.

Ada banyak hal yang memang tidak perlu diingat. Cukup disimpan dalam hati dan dijadikan kenangan tentang bahagia dan sakitnya.

Ada banyak hal yang seharusnya diingat. Bukan pura-pura lupa agar dianggap tidak peduli. Toh, dengan tetap mengingat tidak akan menjadikan masa lalu kembali lagi.

Tidak perlu berpura-pura masih peduli, karena sesungguhnya semua rasa sudah sengaja dikebiri. Pun tidak akan berpura-pura tidak peduli walau telah disakiti sampai mati suri.

Buatku, semua baik. Setidaknya, seperti yang diminta semua orang agar aku baik-baik. Pun sedang berusaha kuat agar tidak merepotkan semua orang dengan menarik lidah dalam dan menutup mulut rapat.

Hanya ingin mengucapkan selamat.

Selamat, karena sudah bisa melupakan masa lalu. Selamat, karena sudah bisa me-retweet salam untuk jiwa yang masih dibayangi masa lalu. Selamat, karena telah berhasil terlepas dari masa lalu. Selamat, karena aku masa lalu(mu).
Selamat, karena pada hari di masa lalu seseorang telah mempertaruhkan jiwa-raganya untuk kamu.

Selamat.

Terima kasih.

(Here they are, unsend present. I wish you could have it.)

Hantu

Tanpa sengaja saya melemparkan joke tentang lagu lama dari band yang sudah bubar. Saya hanya mengambil 1 kalimat untuk menggoda seorang teman, hingga berujung hal yang mengharukan.

Teman saya yang begitu menyukai band 'bubar' tersebut bersedia memetik gitar dan menyanyi, kemudian mengirimkan audionya di grup WhatsApp. Setelah mengirim audio, dia menulis, "Buat teman2 semua..kalian memang seperti hantu yang terus menghantuiku."

Saya mewek!

Si pengirim audio sekaligus yang menyanyi adalah partner saya dulu. Kami sering tidak akur, berselisih paham, dan marahan. Dulu. Setelah sekarang jauh dan 8 tahun tidak bertemu, saya merindukan suara itu, saya merindukan dia...terlebih saya merindukan semua hal yang berlalu begitu cepat.

Saya merasa melewatkan banyak hal ketika bersama mereka. Ada ruang kosong di kepala dan dada saya. Ruang untuk mereka. They're the reason why I do love my youth. Dan dari mereka pula saya belajar banyak hal tentang masa remaja, cinta, pertengkaran, persahabatan, bahkan kekecewaan.

Mereka hidup di hati saya sebagai sahabat lama dan akan kembali baru setiap hari. Dan saya baru menyadari bahwa sepotong lagu yang dikirim via audio itu begitu dalam maknanya untuk persahabatan kami. Maka saya belum bisa berhenti menangis dan belum bisa berhenti memutar ulang suaranya. Lagu itu pernah kami nyanyikan dulu, pernah menemani malam kami di bawah langit bertebar bintang. Dan sekarang, lagu itu hadir lagi di tengah persahabatan kami yang terpisah jarak dan terbagi oleh garis waktu Indonesia.

Well, yeah, they're the real ghost!

"Love ya, guys! Forever ever after!"


Kamu seperti hantu
Terus menghantuiku
Kemana pun tubuhku pergi
Kau terus membayangi aku
Salahku biarkan kamu
Bermain dengan hatiku
Aku tak bisa memusnahkan
Kau dari pikiranku ini
Di dalam keramaian aku masih merasa sepi
Sendiri memikirkan kamu
Kau genggam hatiku
Dan kau tuliskan namamu
Kau tulis namamu
-Dewa 19-

Hari Ini

Hari ini, insyaAllah jadi Ramadhan terakhir di tahun ini. Ada rasa sakit yang mendera dada saya. Saya masih bergelimang dosa. Saya belum diampuni. Astaghfirullah.

Dan sekali lagi harus bersiap memasang muka tembok jika pertanyaan 'itu' muncul lagi. Hahaha. Tapi karena saya masih banyak dosa maka Allah belum membantu saya menjawab pertanyaan mereka. Ini dosa saya sendiri, maka saya harus bertanggung jawab sendiri. Saya yang melakukan, maka saya yang harus menebus.

Allah knows everything in the lands and the skies, also deep inside my heart.

_________________

Hal yang sedikit membuat saya bahagia adalah kembali menjalin hubungan baik dengan teman-teman pramuka seangkatan waktu SMA. Entah sudah berapa tahun kami tidak ngobrol segila ini. Entah sudah berapa banyak cerita yang kami simpan sendiri.

Maka inilah. Kami saling menemukan. Mencoba memperbaiki komunikasi yang sempat renggang. Dan masih mencari beberapa yang tidak memberi kabar. Mencoba berkumpul ketika hampir separuh mudik ke kota kami.

The moment we spent some years ago seems appear in the name of friendship ever after.

Selalu Begitu


Selalu begitu. Saya dan Titis.

Saya pernah menulis tentang Titis beberapa bulan yang lalu. Ketika itu dia menangis dalam sms-sms yang dia kirim pada saya. Kami masih melanjutkan persahabatan jarak jauh ini meski tak setiap hari sms atau telepon.

Selalu begitu. Kami bercerita tentang tangis dan luka dalam sms-sms. Kami membangkitkan semangat dalam sms-sms. Tapi ketika suara kami bertemu, maka semua cerita sedih berubah menjadi cerita yang penuh tawa. Mungkin karena sakit yang sudah terlalu dalam, hingga kami mampu menertawakan kisah yang sesungguhnya membuat pedih. Tapi kami jarang sekali berbagi bahagia.

Selalu begitu. Tidak ada nama yang kami sebut untuk orang yang membuat marah, sedih, menangis, kecewa. Kami selalu mengatakan 'dia'. Ketika kami menghadirkan 'tokoh' baru dalam cerita kami, maka kami bisa menyebut namanya dengan lancar. Kami selalu nyaman dengan hanya mengetahui kisah lengkap kami masing-masing, tanpa harus tahu namanya siapa.

Selalu begitu. Ada banyak hal yang tidak kami ungkap namun bisa kami baca dari cara sms atau telepon. Tidak ada sindiran antar kami berdua. Tidak ada rahasia yang mungkin bisa bocor. Semua yang kami ceritakan akan kami simpan masing-masing tanpa perlu ada warning 'Jangan cerita ke siapa-siapa'. Kami tahu dari hati, bahwa apa yang saling kami ceritakan adalah sebuah rahasia yang wajib dijaga kepercayaannya. Kami saling menjaga rahasia. Saya dan Titis merasa wajib menyimpan semua yang sudah kami bagi. Kami merasa aman ketika kami sama-sama curhat tentang banyak hal.

Selalu begitu. Kami bukan teman baik. Kami tidak terlalu akrab. Kami bukan sahabat dekat. Kami saling merindukan pertemuan. Kami saling menyayangi seiring waktu berjalan, itu saja. Dan kami akan selamanya begitu.

 
*Ditulis setelah sms dengan Titis ketika kami sama-sama insomnia sambil menunggu waktu sahur.
 

I am a part of all that I have met.
-Alfred Tennyson

Picture here

I Wish the Best


Hari ini seorang sahabat saya sidang skripsi setelah menikmati tahun yang panjang sebagai mahasiswa Sastra Inggris. Saya sebut panjang karena semester ini adalah semester terakhir untuk teman-teman seangkatan saya. Mereka (mahasiswa yang seangkatan saya), ternyata sudah masuk ke semester 14 ketika masuk di semester genap tahun ini. Itu berarti, mereka sudah menghabiskan waktu 7 tahun untuk kuliah.

Jujur, sebenarnya saya agak lupa, semester terakhir itu semester 13 atau semester 14. Saya hanya ingat bahwa semester terakhir masih bisa mendapat 1 ‘semester ampunan’ kalau sudah menyelesaikan skripsi minimal sampai BAB 3. Kalau mau selamat yaaa mending nggak sampai semester akhir deh. hehehe

Buat saya, mungkin saat ini adalah moment yang baik untuk dia. Selama ini, teman-temannya meminta dia bangkit, meminta dia kembali mengerjakan skripsi yang sudah dia tinggalkan karena dosennya pergi ke luar negeri. Sedang saya? saya hanya mampu melihatnya dari kejauhan. Menolak keinginan-keingin yang masih sering dia ucap. Bukannya saya bodoh, tapi saya hanya menjaga agar situasi tetap baik di sini maupun di tempat dia berada. Setidaknya itulah cara saya membantunya tetap hidup.

Akhirnya,
{Selamat yaaa..}
{Hari ini sampai ke hadapanmu, kamu menjalaninya. Semoga ini adalah jalan yang membawa kebaikan untukmu. Selama ini aku tidak bisa membantu apa-apa, bahkan mungkin tidak juga berdoa untukmu. Yang aku bisa hanya menambah ‘bebanmu’ yang sudah berat.}

{Segala hal yang mampu kamu raih, adalah hasil jerih payahmu. Semua ini adalah kemauanmu untuk bangkit dan berlari mengejar ketertinggalan. Jangan berhenti lagi, kamu harus tetap melangkah dan jangan menoleh ke belakang. Hanya akan ada kamu dan kenangan, di sana.}

{Kamu masih punya harapan untuk terus melangkah menuju hidup yang baik. Buatlah dirimu menjadi pusat tata surya hidupmu. I wish the best for you.}

Dua posting terakhir saya ini berisi ucapan untuk orang lain. Saya hanya ingin mengatakan hal yang tidak bisa saya sampaikan langsung pada mereka. Hehehe... Padahal sebenarnya sms/telpon/kirim email/lewat sosmed lain, tapi tidak saya lakukan. Saya tidak bisa menjawab kalau ditanya kenapa, jadi harap tidak menanyakannya.

Sudahlah... Selamat berpuasa, everybody. ^___^

*Masuk dapur, masak buat buka.

I don't remember, where site I get this pict. Complain, please!

Ini... Buat Kamu


Posting ini memang untuk seorang teman yang beberapa hari kemarin bilang “Nice Writing” untuk tulisan saya. Ini ucapan terima kasih, kalau suatu hari nanti dia mampir lagi.

Kamu tahu, kamu itu aneh. Beberapa kali kamu membahas akun sosmedku via sms. Apa namanya kalau bukan aneh? Bisa kan ngobrol di sosmed... atau kamu takut ketahuan Hime kamu yang kamu sayang banget itu. Hahahaha.. Sarkas ya? Bodo amat. Aku lho merasa ini lucu.

Pertama, membahas tentang aku yang sudah kembali ke mukabuku. Kedua, membahas tentang aku yang sudah kembali ke twitter. Ketiga, kasih ‘pujian’ buat blog. Keempat, tanya tentang (kalau pakai istilahmu) waslap, kataku sih waddup.

One more thing, kenapa kamu selalu membalikkan kalimat tiap kali kubilang kamu ‘aneh’? Aku nampak seaneh apa sih buatmu? Karena kurasa, aku normal banget kok, kecuali beberapa hal sih. Hahahaha...

Kalau kamu mau tau seperti apa kabarku, maka kuberi tahu bahwa aku baik-baik saja. Aku menjalani hidup dengan aman, damai, tentram, sejahtera. Dan kamu tak perlu takut aku akan menggodamu kalau kamu menyampaikan sesuatu, aku sudah lebih kalem kok sekarang. Hehehehe.

Terakhir, ini mungkin ucapan terima kasihku atas perhatian kamu dan ‘pujian’ kamu. Aku maklum kok yang tentang Hime itu...hahahaha (masih dibahas lagi yaaa??) Kalau kamu punya cara dengan menyampaikan sesuatu lewat sms, maka aku juga punya caraku sendiri, aku sampaikan terima kasihku kali ini lewat blog.


Yep, ini untuk seorang sahabat saya yang tidak jelas di mana keberadaannya sekarang. Saya memang mencoba tidak peduli kok. Saya mencoba menjalani hidup saya tanpa terbebani oleh seseorang. Lebih baik mengabaikan daripada terabai, begitu saya belajar dari pengalaman.

Besok pagi masih harus sahur lho. Berarti sekarang sleeping time.

*Publish posting, matikan laptop, matikan lampu, tarik selimut

There's no one thing that's true. It's all true.
-Ernest Hemingway-


Picture here

I Hate Your Love


Tentang sahabatku. Aku bingung mau mulai dari mana. Aku menyayangi dia, tulus. Ah, seharusnya kata ‘tulus’ tak boleh terucap, tapi aku bersungguh-sungguh ingin dia tahu bahwa apa yang kutawarkan atas persahabatan kami bukanlah hal remeh. Aku berharap banyak hal dari kemampuan dan pesona yang dia miliki.

Bukan tentang sesuatu yang mewah dan melimpah ruah, hanya sedikit mengingatkannya bahwa aku menyukai segala kebersahajaan dan kesederhanaan yang dia miliki. Itu dulu, dulu sekali ketika kami baru bertemu. Aku ingin selalu melihatnya dalam balutan kesederhanaan itu.

Namun aku akhir-akhir ini begitu kecewa padanya. Sikapnya, hatinya, pola pikirnya telah berubah. Bahkan mungkin jiwanya telah tak lagi sama seperti ketika aku meninggalkannya berlari dan menari menjauh. Semuanya berubah begitu cinta memenuhi atmosfer jiwanya. Iya, cinta. Cinta yang salah, cinta yang tak semestinya. Cinta yang membuatku tak sanggup memeluknya lagi. Dan kutahu dia menyembunyikan cinta itu dari hadapanku, karena dia tahu saya akan menjadi orang yang paling kecewa atas keputusannya.

Sesekali aku sangat ingin membuat dia tahu bahwa aku telah mendengar semua hal dengan amat jelas tanpa dia perlu mengatakan padaku. Banyak hal yang telah sampai pada telingaku dan hatiku meski dia menyembunyikan sangat rapat dariku. Iya, tentang cinta itu. Perasaannya itu membuat aku menangis tanpa perlu dia melihatku berurai air mata.

Sekarang aku membiarkannya menikmati sensasi sakit jiwanya. Meskipun kadang satu sisi hatiku ingin menariknya sejauh mungkin. Aku ingin memeluknya dan mengatakan bahwa aku terluka lebih dari yang pernah dia bayangkan. Aku membenci rasa yang dia jadikan sebagai perangkap bagi dirinya. Aku kecewa karena cintanya.

Aku menyayangi dia sepenuh hatiku, tapi aku kecewa, terluka dan menangis. Aku ingin dia kembali. Aku ingin dia mengakui kejujuran yang dia tutupi. Aku ingin dia menjadi keelokan mataku lagi. Aku ingin mampu membuatnya menyadari bahwa segala marah dan kecewa ini adalah harapan besar untuk kebaikannya.

Demi Tuhan, aku tak ingin melihat sahabatku mencintai seorang wanita.



There is no trap so deadly as the trap you set for yourself.
-Raymond Chandler-

Picture here

Menyimak Kisahmu


Kita memulainya sebagai dua sahabat. Kita seperti bocah SD yang sering berbagi makan siang. Kita seperti anak SMP yang suka bolos sekolah. Kita pun seperti ABG SMA yang sedang mencari jati diri. Entah sejak kapan, aku benar-benar lupa. Dan pastinya bukan hal yang terlalu penting kapan kita mengikrarkan diri sebagai sahabat. Semua berjalan apa adanya, tanpa ada sedikit pun yang berlebihan.

Siang itu (masih agak pagi sebenarnya) kita duduk menghadap sebuah meja kecil. Segelas jus melon nyaris habis setengah begitu pelayan meyajikannya ke hadapanku. Bukan karena haus. Bukan. Aku sedang sangat gugup untuk memulai bertanya padamu. Aku tak tahu harus mulai darimana. Karena aku tahu ini semua hal tak baik bagimu, mungkin bagiku juga.

Akhirnya aku memilih mendengarkanmu bercerita tentang bagaimana kamu menjalani harimu sejak kita tidak lagi duduk dalam satu ruang. Kamu dengan kerja kerasmu menjalankan usaha. Dan aku gelisah menunggu apa yang akan kamu sampaikan kemudian. Aku berkeyakinan bahwa kamu akan menyampaikannya sendiri, dari mulutmu sendiri tanpa aku perlu menanyakan.

“Kau pikir kenapa bisa hari ini aku ada di sini? Bersamamu, berdua saja?”
Pertanyaan yang telak membuatku diam, tertunduk, dan tidak bisa menjawab. Jujur, aku salah tingkah, tapi aku secepat kilat memasang tampang tak mengerti dan bertanya balik padamu. Lalu kusesap jus melon yang tak lagi sampai setengah gelas.

Sebuah pengakuan yang sebenarnya sudah kutahu dari mereka. Tapi sungguh aku hanya bisa diam membiarkanmu berkisah tentang semuanya. Tentang gundahmu, tentang sedihmu, tentang marahmu, bahkan tentang ketidakberdayaanmu, tentang cintamu, pun tentang lelahmu.

Aku hanya bisa diam. Tanpa banyak kata, tanpa banyak tanya. Kubiarkan kamu menumpahkan semuanya, dan aku lebih memilih menyimakmu sambil sesekali menyesap jus melon yang rasanya hambar di lidahku.

Mungkin sehambar hidupku. Dan semua yang kamu ceritakan padaku membuatku merasa bahwa hidupku semakin hambar. Aku ternyata tidak punya rasa yang cukup nikmat untuk kukecap ataupun kusesap. Aku memang hanya punya diriku sendiri. Di satu sisi aku menikmatinya, di sisi lain aku ingin menjauh dari hidupku sekarang.

Setidaknya aku masih sedikit beruntung karena kamu masih percaya padaku. Mempercayakan rahasia yang sebentar lagi harus terungkap pada publik. Kudengarkan saja semuanya, lalu kusimpan baik-baik dalam memoriku. Suatu hari akan menjadi cerita yang menuntun jalan kita masing-masing menjadi lebih baik.

Maka kini, biar aku menyimpan rapat semua hal yang harus kusingkirkan dari pikirmu. Kusimak dengan seksama, kurekam dalam kepala dan hati. Kujadikan satu anak tangga yang membantuku ‘naik kelas’ hingga hidupku akan lebih punya rasa. Kisahmu akan hidup di hatiku selamanya, kukenang dan kujadikan kisah indah yang tak tergantikan.

Kusesap untuk terakhir kalinya jus melon dari gelas di hadapanku. Sambil kuselipkan doa, agar jalanmu berikutnya dimudahkan. Pun aku berdoa agar pintaku didengar dan diwujudkan.

PS: Terima kasih telah mempercayakan cerita berat itu padaku.
Picture from here!

Cinta Cinta #3

Maafkan kami mengabaikanmu.

Kau masih ingat tidak ketika semua orang menganggap kita bisa jadi pasangan. Karena apa? You are the youngest boy, and I’m the youngest girl. Kita hanya tertawa. Tersenyum-senyum sambil menunggu waktu yang tepat untuk mengungkap fakta pada mereka. Mereka harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Suatu hari, pastinya! Tapi kita sok misterius.

Maka hari itu datang. Hari di mana kau minta aku mengerjakan semua tugas kita, karena kau sedang sibuk. Jujur, pada saat itu aku tak mengerti alasan sibuk yang kau ucap. Sampai akhirnya aku pura-pura bertanya tentang apa saja yang sudah kau kerjakan. Dan satu nama tempat terlontar begitu saja. Ahaaaa…aku paham! Baiklah mengerjakan tugasmu kuambil-alih sementara ini.

Hari itu tiba! Kau mengucap janji sehidup semati di depan penghulu. Aku bahagia! Sumpah, aku bersyukur karena hari itu tiba. Tapi aku ternyata masih harus menjelaskan pada mereka semua bahwa kedekatan kita adalah karena kau perlu aku untuk merahasiakan hari bahagiamu sebelum tiba waktunya. Kita tim hebat! Mereka terkecoh, meski mereka berpikir aku patah hati.

Hahaha…lelucon yang sangat lucu di penghujung tahun itu.
Kenangan yang indah dan penuh tawa.

Tapi kini semuanya telah berubah.
Seharusnya aku ada bersamamu di saat kau sedang terluka. Aku tahu kau memerlukan aku untuk meringankan luka batinmu. Luka atas baktimu sebagai anak.

Sudah kukatakan pada mereka, aku merasakan kejanggalan padamu. Meski belum lama aku mengenalmu, aku tetap mampu merasakan ketidak-seimbangan dalam tawamu dengan rasa di hatimu. Sebagai sahabatmu, aku seharusnya bisa menjadi pendengar baik bagimu. Tapi maaf, aku mengabaikan feeling bahwa kau sedang membutuhkanku.

Maafkan aku, sahabat. Aku terlalu sibuk dengan urusanku, dengan hedonism-ku.

Aku dan beberapa teman, akan mencoba membantumu. Kami ingin melihatmu seperti dulu. Orang yang optimis, penuh semangat, dan selalu ringan hati. Percayalah, kamu tak sendiri! Kau akan memeluknya seperti dulu. Cintamu akan kembali padamu, di tempat yang sudah seharusnya dia berada. Kau pun akan kembali merengkuh cinta orang tuamu.

Jangan bersedih, Allah bersama orang yang sabar!
Kami berdoa bersamamu, berharap kebaikan terlimpah padamu.
I borrow this pic, here!

Girls Talk #Love is You


“Orang itu kalau curigaan ya begitu. Dasar anak kecil!”
Sahabat saya ini entah kenapa tiba-tiba ngomel begitu saya menyilahkan dia masuk ke kamar setelah salaman dengan ibu.

“Anak siapa?” saya coba menetralisir keadaan.

“Ceweknya si A*i*.”

“Kenapa?”

“Dia parno.”

“Oh, A*i* sekarang seleranya berubah ya..”

“Parnooo...paranoid...” serunya kesal.

“Paranoid itu pasti saudaranya android.”

“Dasar dudul.”

“Kok pakai sebutan itu sih...” Saya setengah meratap.

Gagal!. Dia masih berapi-api. Usaha saya meredam emosinya gagal total.

“Sudah jelas-jelas dia yang me-remove aku bahkan aku di block malah aku dikata memata-matai dia. Sama seperti anak kecilmu.”

Saya memutar bola mata, mengernyitkan alis, dan akhirnya tertawa terpingkal-pingkal. Kalimat terakhirnya itu benar-benar lucu buat saya. Dapat istilah dari mana ‘anak kecilmu’ itu tadi?

Dia melotot, membuat saya menghentikan tawa. Dan mulai mendengarkan dia yang menumpahkan kekesalannya tentang pacar baru mantan pacarnya. Tak lupa selalu dia menambahkan kalimat andalannya ‘Sama seperti anak kecilmu.’ di setiap akhir episode kisah yang dia ceritakan dengan muka merah padam.

Setelah reda emosinya, saya mengangsurkan segelas air putih padanya. Dia menyesap perlahan, meneguk sedikit demi sedikit.

“Sudah jangan marah-marah...”

“Kamu tahu sendiri kan bagaimana rasanya....” Dia sudah menyambar kalimat saya yang belum selesai dan mulai mengomel panjang tentang rasa kesalnya dan tentu saja diakhiri dengan: ‘Sama seperti anak kecilmu.’.

Dia berhenti mengomel ketika saya mencoleknya dan bersiap melemparnya dengan buku Harry Potter and the Deathly Hallows setebal hampir seribu halaman, yang sedang saya baca (lagi, lagi, dan lagi).

“Ngomel tidak menyelesaikan apapun. Kalau sudah tahu dia masih bocah yang kekanak-kanakan yaa sudah...kamu tak bisa mengubahnya. Kalau sudah tahu A*i* sebenarnya cuma kasihan sama anak itu dan masih sayang kamu ya mau apa lagi...memang begitu.”

“Satu hal, A*i* itu sama plinplannya dengan ‘dia’mu dan anak kecil itu sama dengan anak kecilmu.”

Saya menepuk jidat saya sendiri. Dia memang sudah tidak berapi-api seperti tadi, tapi dia masih saja menyamakan kisahnya dengan apa yang saya alami setahun belakangan ini. Saya menghela napas panjang, dia memang selalu lebih parah dari saya kalau mengomel.

“Kalau saja aku punya blog seperti kamu, pasti dia juga akan sering mengintip lalu menyalahkan aku. Lalu berlagak sok dia yang paling disakiti dan dimata-matai padahal dia sendiri selalu memata-matai. Sama seperti anak kecilmu.”

Saya mengelus dada, tapi tidak menyahut omelannya. Saya tahu bagaimana rasanya jadi dia, karena saya sudah ada di posisi seperti itu jauh sebelum dia merasakan.

“Kamu kenapa pakai acara deactivated FB? Aku tak ada teman ngomel-ngomel sejak kamu menutup FBmu dan Oka ikut suaminya ke Kalimantan. Sepi hidupku,” matanya jadi berubah sayu.

Saya sebenarnya berniat tertawa melihatnya tiba-tiba melow galau begitu, tapi saya tahan dan menarik tubuhnya untuk saya peluk.

“Cuma masalah FB tutup saja kenapa jadi galau begitu?” Saya masih memeluknya.

“Eh, tapi aku kan cuma berhadapan dengan satu anak kecil, kamu kan dengan beberapa anak kecil.”

“Oalah...lha kok dibahas lagi. Berarti yang kamu bilang ‘anak kecil’ dari tadi itu siapa?”

“Semua orang yang membuat kamu sedih. Hehehe.”

Saya menjitak kepalanya dan kami tertawa bersama.

Saya tahu, Tuhan mengirim orang-orang yang luar biasa untuk menemani saya hidup dan hidup saya, termasuk dia.

Bagi saya mereka tetap orang yang tidak bisa begitu saja saya abaikan kehadirannya. Bukan orang yang sempurna, memang, tapi setidaknya mampu melukis lengkung senyum untuk saya, mau menghapus air mata saya, dan merelakan waktunya-pulsanya-kosa katanya-sabarnya habis untuk menenangkan ketika saya galau. Then I find that...




Love is you...

picture from here

A true friend unbosoms freely,
advises justly, assists readily, adventures boldly,
takes all patiently, defends courageously,
and continues a friend unchangeably.
~William Penn~
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Mereka yang Mampir

Translator

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Guess House

free counters

Popular

Clock

Meeting Room

About Me

Foto Saya
Asmara Nengke
Solo, Indonesia
Not too simple, just unique, extraordinary and limited-edition. Others' big words mean nothing to me.
Lihat profil lengkapku

Kanca-Kanca

Talk to Me

Up to Date