Sweetest Nightmare

Berani Bermimpi adalah Berani Mengambil Risiko dan Kesempatan

Tampilkan postingan dengan label Rasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rasa. Tampilkan semua postingan

Sebuah Lagu

....
Hati kecil berbisik
Untuk kembali padanya
Seribu kata menggoda
Seribu sesal di depan mata
Seperti menjelma
Saat aku tertawa
Kala memberimu dosa

Rasa sesal di dasar hati
Diam tak mau pergi
Haruskah aku lari
Dari kenyataan ini
Pernah kumencoba tuk sembunyi
Namun senyummu
Tetap mengikuti

(Iwan Fals, Yang Terlupakan)



Saya sedang heran kenapa Iwan Fals menyanyikan lagu itu. Tentang kenangan kah? Tentang penyesalan kah? Tentang kerinduan kah?

Saya masih heran kenapa Iwan Fals menggunakan frase 'saat aku tertawa kala memberimu dosa'? Apakah ingin menunjukkan kenangan yang tidak hilang?
Kenapa kemudian diikuti 'Rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi'? Menyesal? Untuk apa? Dosa? Atau penhabaian setelah memberi dosa?
Lalu apa makna dari 'pernah kumencoba tuk sembunyi, namun senyummu tetap mengikuti'? Bolehkah ini disebut sebagai sebuah kerinduan? Kerinduan yang tidak pernah mati. Tapi terlalu pengecut untuk 'kembali', pun terlalu bodoh.

Ah ya, saya lebih suka kata bodoh!
Karena hanya oranh bodoh yang berani berbuat dosa lalu (sengaja) lupa dan akhirnya hanya bisa menyesal.
Hahaha
Kalau memang laki-laki, akuilah perbuatan dosa itu jangan lantas 'lupa' (sebuah bayang yang pernah terlupakan) dan kemudian menyesal. Kalau pun menyesal jangan hanya bilang menyesal pada diri sendiri, katakanlah pada orang yang seharusnya mendengar penyesalan itu dan minta maaf lah.

Seorang adik kelas saya pernah menulis: 'Laki itu kalau hujan nggak pakai jas hujan'
Ini jawabnya ketika kutanya apa yang dipakai si pria 'laki', "Pakai payung pink bergambar hello kitty."

Oh, dammit! Dia sukses membuat saya terpingkal.

Saya tahu, itu bukan jawaban tidak serius. Itu adalah sebuah sindiran untuk 'pria penyesal' semacam pria dalam lagu Iwan Fals itu. Hanya berkata menyesal, sedih, sakit sampai tulang-tulang, tapi tidak melakukan apa pun untuk menebus penyesalan itu.

____________



Akhir juli yang mendung.
Menulis hal random.
Dengan tersisip harapan semoga ada yang mendengar lagu yang sama dengan saya kemudian mencoba merenunginya.
Bukan apa-apa... hanya saya merasa lagu ini layak juga di dengar oleh seseorang nun jauh di sana.

Seseorang yang dalam penglihatan saya menampakkan kebahagiaan. Dan saya tidak pernah berspekulasi (seperti yang juga dia lakukan) bahwa dia sedih. Saya mengatakan apa yang saya lihat, sama seperti yang dia lakukan. Saya melihat senyumnya sangat lebar, tulisan tentang queen dan tuan putri yang berbunga, maka saya menyimpulkan bahwa hidupnya bahagia. Meski dia menolak disebut bahagia, setidaknya itulah yang tampak di mata saya.

Saya memang bukan orang yang pandai membaca wajah atau senyum seseorang. Tapi saya yakin bahwa saya orang yang bisa merasakan bahwa cinta untuk saya pernah ada. Dan seperti yang selalu dia bilang bahwa perasaannya pada seseorang akan sama besar/kecilnya selamanya. Mungkin saya adalah orang yang mendapat 'porsi' paling kecil.

Ini sebuah keMUNGKINan. Saya tidak mau berspekulasi!
Saya hanya cinta.



(From me....)

Pernah kumencoba tuk sembunyi,
Namun senyummu tetap mengikuti
-Yang Terlupakan, Iwan Fals-


Tentang Foto Pagi

Menurut beberapa teman, kebiasaan baru saya meng-upload foto tentang pagi adalah hal istimewa. Saya memang menyukai pagi tapi belum pernah mengabadikannya dalam bentuk apapun. Selalu tentang bintang dan langit yang saya abadikan dalam tulisan atau pun foto.

Maka inilah komentar Tee di FB tentang foto sunrise saya (foto instagram saya kadang saya link dengan FB), "Ketenger nek isuk2 nglamun ngenteni srengenge."
*Ketahuan kalau pagi-pagi melamun menunggu matahari.

Saya tertohok membaca komentar itu pagi ini (Just info, saya upload foto sunrise kemarin pagi). Saya tidak membalasnya, hanya melihatnya dengan perasaan tidak tentu. Bagaimana dia bisa tahu kebiasaan baru itu, melamun menanti sunrise. Padahal hal itu baru saya lakukan akhir-akhir ini dan saya tidak menceritakan pada siapa pun secara langsung.

Dia stalking blog saya? Hahaha. Mustahil!
Dia tak paham tentang blog dan tidak tahu alamat blog saya. Dan yang paling penting, Tee BUKAN STALKER bagi saya. Kami sahabat baik yang  saling mendengar tanpa banyak menyela.

Mungkin saat ini saya yang lebih banyak mendengarkan Tee, dan menemani hari-hari buruknya. Bukan saya tidak mempercayainya lagi, tapi saya lebih suka tidak menceritakan hal yang sama secara berulang pada sahabat-sahabat saya. Hidup mereka terlalu perfecto! untuk mendengar hal yang sama. Maka saya membiarkan the stalkers know what they don't understand. Let them read and conclude all the things they've been stalked.

Saya memang mulai mengabadikan sunrise, meski dengan kamera seadanya. Karena matahari pagi cukup menghangatkan badan setelah semalaman menemani bintang-bintang.

Ah, saya percaya bahwa saya tidak sulit untuk dipahami. Saya hanya sulit dipahami oleh mereka yang tidak mau 'melihat' saya dan mereka yang selalu berpikir bahwa saya bisa membaca pikiran mereka.

That's all!


foto koleksi pribadi

I Hope You Understand


Ibu sudah mengomel panjang karena jadwal makan saya yang buruk semenjak sakit. Sempat juga ibu mendapati saya sedang nangis di balik bantal. Hehehe..

Jawab saya, "PMS, Bu."
Alasan yang agak nggak masuk akal, tapi ibu berusaha percaya.

Akhirnya hari ini saya hang out nggak jelas dengan seorang teman lama. Niatnya saya mau curhat tentang apa pun, tapi yang akhirnya terlontar hanya, "Aku ingin makan banyak hari ini."

Di akhir makan saya mendapat ledekan, "Katanya mau makan banyak?! Nasinya masih sisa banyak, teh botolnya diminum nggak sampe separuh, strawberry float-nya sudah dibagi berdua pun masih nggak habis juga."

"Aku ketemu dia kapan hari," saya berkata cepat.

"Kamu bilang apa? Ulangi!"

"Apa? Bilang apa?"

"Oke. Kalian kemana saja, ngapain saja?"

Saya memilih tersenyum saja, tidak menjawab. Dan dia sudah terlalu kenal saya untuk tidak melanjutkan bertanya.

Ketika sampai di rumah dan memandang hasil dari 'ditemani' seminggu lebih membuat saya hanya bisa menangis dalam diam dan berkata dalam hati "Nedha nrima." (bahasa Suroboyo-an yang artinya terima kasih).

Saya jadi ingat perkataan teman saya tadi ketika saya mencoba menyesap strawberry float untuk mengalihkan pembicaraannya, "Kamu tidak mungkin tidak merasa sakit setelahnya kan?! Hanya kamu terlalu tidak pandai untuk mengatakan padaku atau pada siapa pun bagaimana sakitnya. Apa tidak cukup kamu menyimpannya sendiri?"

Uhuk! *Saya tersedak

Strawberry float itu langsung saya letakkan di meja dan dada saya sakit sekali. Entah karena apa.

Jika tulisan saya masih belum mampu menunjukkan seperti apa rasa saya, maka saya tidak punya cara mengucapnya dengan bibir saya. Jika apa yang saya lakukan tidak cukup membuktikan sebuah penghargaan yang lebih dari apa pun, maka saya sudah tidak punya apa-apa lagi untuk membuktikannya, kecuali nyawa. Dan sepertinya sudah pernah hampir melayang juga (dulu).

Saya (masih) akan menulis tentang apa pun termasuk dia. Saya punya hak (untuk bicara tentang hati dan perasaan saya) sama seperti semua foto yang telah diupload dan merobek hati saya.

Bukan tulisan untuk siapa pun. Bukan! Hanya untuk saya sendiri.
Terima kasih.

 
You,
Try to listen a song from Lady Antebellum -As You Turn Away- which make me can't help the tears drop for hours
 

The beginning of love is the will to let those we love be perfectly themselves.
-Thomas Merton

Picture here

Hatiku, tentangmu


Aku sayang dia. Sangat!

Entah bagaimana rasa ini bisa kukatakan padanya. Aku tidak punya kekuatan untuk melawan rasa. Sekuat apa pun aku menghindar, toh, rasa itu muncul lagi ketika melihatnya menghampiriku.

Melihatnya mendekat di bawah rinai hujan, seperti mengumpulkan serpihan kertas yang telah terkoyak dan porak poranda. Menatapnya dari kejauhan seperti menamparku bahwa aku telah kalah untuk tidak menghiraukannya.

Sakit yang sudah kubungkus dengan senyum akhirnya harus kembali berujung luka. Betapa aku sempat kehilangan kesadaran bahwa telah ada hati yang dipilih. Aku sungguh tidak ingin tersenyum ataupun menangis menyadari hatiku tidak dipilih.

Aku tidak mau seperti ini kalau ingat dia sepuluh tahun lagi atau dua puluh tahun lagi. Tapi apakah aku sanggup? Sedangkan sebaris kalimat tentang rindu telah mampu menghancurkan pertahanan yang kubangun tinggi.

Masih bisakah aku menahan semua air mata setelah pengabaian yang dia buat? Masih bisakah aku menerima segala pengabaiannya? Masih kuatkah aku?

Sepuluh atau dua puluh tahun kemudian, aku mungkin masih akan berpura-pura tersenyum di hadapannya. Aku mungkin masih merasakan sakit dan terluka ketika melihatnya bersama orang lain. Atau mungkin, aku akan memilih tidak menatapnya sebelum perasaanku kembali hadir lalu berubah menjadi pisau yang mengoyak luka lama.

Aku tidak ingin melupakannya meski dia telah lupa sama sekali tentang aku. Aku akan membiarkannya tetap hidup meski aku harus selalu merasa sakit menerima suguhan semua kemesraan itu. Aku yang akan mencoba bahagia melihat hidupnya yang begitu sempurna.

Apakah semua orang bisa mengingkari pandangan mata mereka? Tidak ada seorang pun yang tidak percaya bahwa menjadikan seseorang sebagai calon istri adalah hidup yang tidak sempurna. Maka tidak salah ketika kusebut hidupnya lengkap dan sempurna tanpa aku.


Kepadamu,
Aku menyayangimu dan tidak tahu bagaimana aku berkompromi dengan segala rasa cemburu ketika kulihat gambar mesramu bersamanya. Dan sejujurnya aku lelah dengan semua pengabaian yang kau buat. Akuilah bahwa jauh di dasar hatimu kau telah menghapusku dan tidak lagi merindukanku. Aku akan baik-baik saja.

Picture here

Tak lagi Sama


Meski hujan memang tak pernah punya apapun untukku, setidaknya gerimis punya.
Gerimis pernah melambungkan harapanku tentang sebuah kebohongan.
Gerimis pernah menemaniku dalam dinginnya batu yang keras.
Gerimis pernah menjadi saksi bagaimana aku persembahkan rasaku.

Bukan tentang siapa atau kenapa.
Hanya tentang aku yang tiba-tiba sangat lelah mencari ruang yang cukup untuk meluruskan punggung dan memijit kaki. Ternyata memberi terbaik sepenuh hati belum bisa menjadi jaminan bahwa akan diberi yang terbaik. Atau benar bahwa sakit itu memang paling mungkin ditimbulkan oleh orang yang kita percaya untuk menjaga hati.

Aku sudah berhenti memandang semua gambar tentang harapan, tapi ternyata ada partikel melekat di otakku masih yang belum terhapus dengan sempurna. Berbagai bentuk rasa yang menyakitkan dan membuat tak mampu bergerak itu masih membelenggu kepalaku. Dan membuatku membatin, “Ternyata beginilah menjadi sampah yang dicampakkan.”

Semua memang berputar. Dan aku kembali di sini, di sudut gelap yang memaksaku kalah pada sebuah abstraksi bernama ‘rasa’. Dan sebuah kecupan lembut sang kenangan membawaku jatuh semakin dalam mimpi buruk termanis.

Bukan tentang siapa dan kenapa.
Ini tentang aku yang tidak bisa membedakan rasa dan dosa. Juga tentang aku yang tak bisa membedakan lagu rindu atau lagu patah hati. Masih tentang aku yang selalu mendendangkan nada sama pada bait yang berbeda.

Kini semua sudah berubah. Semuanya serba abu-abu untukku, bukan untuk siapa pun. Tidak ada yang akan kembali seperti semula. Tidak akan seperti kemarin. Bahkan laguku telah berbeda nada.

Memories warm you up from the inside. But they also tear you apart.
-Haruki Murakami

Picture here

You: A Lost Message


Kenapa hari ini? Mungkin begitu tanyamu. Maka aku katakan bahwa aku tak pernah tahu. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang sedang kurasa. Tentang awan yang akhirnya berakhir menjadi hujan, di langi yang kupandang.

Andai kau tanya apakah ini rindu. Jika menurutmu begitu, anggap saja benar.
Andai kau tanya apakah ini marah. Jika menurutmu begitu, anggap saja iya.
Andai kau tanya apakah ini sayang. Jika menurutmu begitu, anggap saja semaumu.
Andai kau tanya apakah ini kesal. Jika menurutmu begitu, anggap saja demikian.

Aku hanya membayangkan saat-saat aku melihat duniamu dari mata batinku. Mengawasi dengan cemas. Menatap dengan haru. Mengharap dengan rindu. Dan semua rasa di masa itu. Aku hanya kembali merasainya.  Meski hanya sejengkal.

Merasakan perhatian yang utuh saat menggenggam tanganku. Merasakan perlindungan penuh saat merangkul bahuku. Merasakan dunia yang hangat saat melihatnya tertawa. Merasakan aroma surga yang menguar dari nafasmu yang menyentuh tiap inchi kulitku. Dan merasakan seperti bidadari hanya karena sebuah pesan singkat.

Semua sudah usai. Tanpa sisa. Tanpa kata. Hanya ada gumpalan rasa yang tidak pernah terpedulikan (lagi). Hanya ada aku dengan segala pikiran yang tak akan mereka mengerti mengapa aku begini.

Tak perlu ada tangis dan air mata lagi. Semua telah mengering. Sepertinya keringnya rasa itu untukku. Dan aku akan perlahan memahami bahwa aku tak lebih berharga apa yang telah dipilih hari itu hingga hari ini.

Jika sempat tulisan ini terbaca, maka akan kukatakan dengan jujur bahwa aku mencoba untuk jujur. Sekian waktu aku berpura-pura baik-baik saja, padahal aku menyembunyikan rasa yang tidak dapat kuejawantah dalam ribuan kalimat bahkan dalam satu novel atau drama. Kepura-puraanku adalah bentuk terbaik yang kupunya untuk tetap melihat senyum yang sesungguhnya sangat menyayat.Bukan untuk siapa pun, hanya untuk diriku yang terlalu sakit ketika kusadari aku tak lagi punya impian.

Maka jangan berlagak mengerti aku karena tak ada yang kusampaikan tentang semua rasaku meski dalam ke-nyinyir-an yang dirasa oleh mereka.

You never really understand a person
until you consider things from his point of view
Until you climb inside of his skin and walk around in it.
-Harper Lee


Picture here
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Mereka yang Mampir

Translator

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Guess House

free counters

Popular

Clock

Meeting Room

About Me

Foto Saya
Asmara Nengke
Solo, Indonesia
Not too simple, just unique, extraordinary and limited-edition. Others' big words mean nothing to me.
Lihat profil lengkapku

Kanca-Kanca

Talk to Me

Up to Date